RSS
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Di Bawah Langit Bali


Seseorang Yang Tertinggal…



Pulang kuliah. Bella memasuki gerbang rumahnya. Melewati balai kecil di depan rumah di mana ibunya tengah membuat takir sesaji seperti biasa. Sekilas ibunya melihatnya, hanya dengan senyum tipis sebagai sambutan untuk hal yang sudah keseharian. Ya, sudah kesehariannya, sibuk kuliah dan selalu pulang menjelang sore.

Ia bersandar di teras depan kamarnya. Melepas penat sambil memandang ke barat. Jauh ke seberang teras. Pandangannya mengembara ke pesawahan yang hijau kekuningan di sana, yang berbatas dengan tepian bukit dan hutan yang teduh.
0 komentar

Posted in

IV


DI BAWAH LANGIT BALI







Hidup Adalah Anugerah


           
Ingatanku tentang peristiwa itu masih sangat segar. Memang, baru lima bulan itu berlalu. Tapi kurasa, sampai kapanpun aku tak akan pernah melupakannya. Karena di sanalah semua ketakutanku terasa jelas, sepenuhnya.
           
Aku menatap ketakutanku ketika melihat dia gontai, jatuh tak berdaya di depan mataku. Kurasakan kesakitan, seperti ada jutaan lebah masuk ke dalam telinga lalu menyengati seluruh isi kepalaku. Tapi melihatnya roboh, membuatku terus berusaha bangkit agar bisa merengkuh gapaiannya yang tak sampai...
           
Aku tak hanya takut kehilangan nyawaku. Aku juga takut kehilangan dia yang kucintai. Aku jatuh di sisinya, memeluk tubuhnya hingga aku tak mampu lagi untuk siuman di malam kejam itu.
           
Luka di tubuhku pulih dalam beberapa hari. Tapi dia, menderita luka serius karena kepalanya terkena pecahan dinding yang terlempar akibat ledakan. Tapi, dia masih diijinkan Tuhan untuk bersamaku.
           
Malam itu menyisakan kepedihan dalam batin kami. Banyak orang kehilangan nyawa di malam itu. Wajah kematian seolah memaksa kami untuk bersyukur karena kami masih diberi hidup. Tapi, kami tetap membayar rasa syukur itu dengan sebuah kehilangan yang sama berharganya.
           
Dika selamat.
           
Tapi kami kehilangan Devan. Dia meninggal pada saat itu juga, ketika ledakan terjadi. Kami tak pernah bersyukur tanpa melepas air mata kehilangan... Ketakutan dan kepedihan yang meluruhkan jiwaku hingga sujud, semakin menyadarkanku bahwa aku harus bersyukur atas setiap kesempatan yang masih aku punya. Kesempatan untuk menjaga semua yang kumiliki dan kucintai...
           
“Dia pasti berada di tempat yang lebih baik sekarang,” ucap Dika. Tangannya mendekap erat bahuku.
           
“Iya...” balasku pelan. Tapi, meski kita tahu orang yang kita cintai pergi untuk menuju ke sebuah tempat yang lebih baik, menyisakan pula satu kenyataan bahwa dia tak akan kembali lagi. Kita bisa berkata bahwa kita tidak boleh merasa kehilangan karena sesungguhnya dia adalah milik Yang Maha Kuasa, bukan milik kita. Tapi bisakah dalih itu membuat kita tak akan merindukannya?
           
Kami akan selalu merindukan Devan, sahabat kami.
           
Kurengkuh tangan Dika, makin kurapatkan ke tubuhku. Rasanya aku butuh lebih lagi kekuatan untuk merenunginya, menghadapi Devan yang kini terbaring di dalam sana, di bawah nisan kokoh yang senyap. Kueja dalam hati nama yang terukir di nisan itu. Kuingat semua tentang dirinya. Dia yang masih muda... Dia selalu bersemangat selama hidupnya... Siapa yang mampu menawar saat takdir sudah bicara?
           
Suatu ketika dia pernah berkata padaku, “Penyesalan bukan lubang untuk kita terbenam. Tapi lubang untuk kita daki!”
           
Aku menghela nafas mengingatnya. Pesan Devan telah mendorongku untuk bangkit dari penyesalan. Berhenti menyesali kesempatan yang telah hilang, menyibak keberanian untuk kesempatan baru yang datang padaku. Mungkin juga untuk berhenti menyesali kehilangan yang tak sanggup kucegah, karena aku harus meneruskan hidup dengan hal lain yang masih aku punya. Bahwa setiap hal dalam hidup selalu memiliki arti.
           
Aku menatap Dika yang duduk di sampingku. Dia tersenyum menguatkanku. Sejak tadi kami duduk di tepi nisan Devan, mengenang dan memanjatkan doa untuk sahabat yang kami sayangi itu. Dia telah mempertemukan kami sebelum dia sendiri akhirnya pergi meninggalkan kami.
           
“Kamu mau pamitan sama Devan, kan?” ujarku pada Dika.
           
“Sebenarnya aku juga mau minta restu padanya.”
           
“Restu apa?”
           
Dika merangkulku, mengajakku berdiri dan mengarahkan badan kami ke hadapan nisan. Lalu Dika berseloroh di depan nisan Devan, “Sobat, minta restumu ya, sekarang kami sudah jadian...”
           
Aku menahan tawa dan menyikut perut Dika.
           
“Kami mau jadi pengantin!” lanjut Dika.
           
Kami tertawa bersama. Serasa ada bahagia yang ingin kami bagi dengan Devan, sahabat kami yang sudah tiada.
           
“Kami akan rindu sama kamu, Van...” ucap Dika lirih.
           
“Pasti,” bisikku lirih.
           
Kami beberapa saat terhening, menatap nisan Devan dengan haru. Aku menatap bunga-bunga yang telah kami tebar di atas nisan. Satu tanda bahwa dia akan selalu harum dalam kenangan kami.
           
“Awan...” bisik Dika padaku. “Kamu mau menungguku lagi?”
           
Aku menatap Dika lekat. Dia harus kembali lagi ke Depok, dia harus meneruskan kuliahnya. Dia akan berangkat besok siang.
           
“Aku akan menunggumu,” jawabku pelan.
           
“Aku akan secepatnya menyelesaikan kuliah. Mungkin satu setengah tahun lagi. Setelah itu aku akan kembali lagi ke Bali,” ujarnya, seraya menengadah ke langit.
           
“Sebentar lagi kuliahku juga akan selesai. Aku akan mencari kerja di sini. Sambil menunggumu...” balasku, seraya ikut memandangi langit biru dengan awan perak yang berarak.
           
Lalu aku membentang pandanganku ke arah selatan, di mana dari atas bukit ini dapat kulihat di kejauhan sana, pematang sawah yang menguning di sisi pantai yang biru...
           
“Lihatlah sawah-sawah di tepi pantai itu...” bisikku di sisi Dika. “Dulu aku menganggap diri kita seperti itu, indah tapi tak bisa sepenuhnya bersatu...”
           
“Sekarang?”
           
“Sekarang aku ingin melihat ke sisi lain yang selama ini telah kulupakan...” ucapku seraya kembali menengadah. “Lihatlah langit yang juga biru. Andai hujan tak pernah turun, apa bumi bisa menjadi subur? Apakah sawah-sawah akan pernah menguning, berkeemasan di tepian pantai itu? Aku telah melupakan kemurahan Hyang Wisnu, yang selalu memelihara bumi dengan air. Dan Hyang Pertiwi, Dewi Bumi tak lain adalah Sakti-Nya. Kita sering berkata, bumi dan langit terpisah jauh. Tapi sesungguhnya keduanya menyatu, lebih dari yang kita tahu...”
           
Aku menatap Dika lekat. Seperti halnya dia menatapku dengan senyumnya yang hangat.
           
“Aku masih ingat kata-katamu dulu. Kamu benar, bahwa kehidupan tak lepas dari dharma masing-masing...” ucapku melanjutkan isi hatiku. “Dan aku percaya bahwa dharma, jalan hidup yang benar, tak mungkin terpisah dari jiwa yang jujur dan tulus. Karenanya aku bersyukur akhirnya bisa mengatakan ini dengan jujur...”
           
Dika tertawa. “Tak perlu malu mengatakannya sekali lagi!” selorohnya.
           
Aku ikut tertawa agak tersipu. Ya, aku malu. Malu tapi tak ragu, untuk menegaskannya seratus kali sekalipun. “Dengan jujur dan tulus, aku mencintaimu.”
           
Dika mengusap bibirnya yang menahan tawa. Lalu tangannya memelukku dengan lembut. 
           
“Janji, tunggu aku...” bisiknya di telingaku.
           
Bibirnya yang hangat, sekejap membasuh lembut bibirku. Kutatap matanya yang bening dan cerah itu...
           
“Aku janji,” jawabku pasti.
           
“Masih banyak yang harus kita hadapi,” bisik Dika. “Keluarga kita, masa depan kita...”
           
“Kita akan hadapi bersama.”
           
Jemari kami berpadu erat. Menegaskan ikrar dalam hati kami.
           
Sekali lagi kami menatap nisan Devan. Lalu perlahan kami mulai beranjak dari hadapannya. Kami melangkah bergandengan, melewati barisan nisan-nisan, menelusur dan mencari celah untuk langkah kami.
           
Kami harus terus berjalan, karena masih ada hidup untuk kami syukuri. Masih ada hari-hari untuk kami jalani. Di sana menanti, liku-liku, tempaan dan cita-cita. Dengan cinta ini kami akan menyongsongnya.

Paduan hati kami, adalah kenang-kenangan berharga dari masa-masa persahabatan yang indah.. Langit Bali saksinya. Pada keagungan-Nya, cinta ini akan selalu kami syukurkan.




~purna~
0 komentar

Posted in

III


DI BAWAH LANGIT BALI








Seseorang Yang Kembali




Selesai kukemasi barang-barangku. Aku duduk di pinggir tempat tidurku, melepas lelah seraya tersenyum puas atas semua persiapanku. Semua sudah beres. Sambil memandangi sudut-sudut kamar kosku yang lengang, aku termenung membayangkan kembali proses panjang yang telah kualami selama ini.

Sejak aku diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, aku harus berpindah hidup dari kampung di Bali ke kota submetropolis ini, kota Depok. Semula aku sempat tinggal dengan pamanku di Jakarta, tapi mencoba hidup mandiri sebagai anak kos rupanya lebih menantangku, selain pertimbangan jarak yang lebih dekat dengan kampus. Kota Depok mungkin memang tak sebesar Jakarta. Tapi hidup di sini tetap menuntutku untuk bisa beradaptasi dengan banyak hal baru. Semula terasa sulit. Tapi justru itulah yang membuatku belajar lebih tegar. Aku berusaha untuk mandiri. Pagi kuliah, malam bekerja di sebuah restoran fast food. Beruntung, aku juga berhasil mendapatkan beasiswa yang meski tidak besar tapi dapat menunjang banyak kebutuhan kuliahku. Dan aku juga masih bisa menabung. Aku bangga dengan semua pencapaian ini!
         
Tahun kedua menjadi mahasiswa, aku membeli HP dengan uangku sendiri. Padahal dulu aku selalu berpikir HP bukan barang penting, dan selalu menolak kalau orang tuaku mau membelikanku benda itu. Dulu aku anak kampung yang berpikir bahwa HP hanyalah trend yang cuma cocok untuk orang-orang kota yang kelebihan uang. Tapi setelah aku bertemu dengan tempat hidupku yang baru, yang penuh kesibukan dan semuanya perlu serba praktis, aku mampu membeli alat itu dengan uangku sendiri. Tentu saja sekarang aku juga berpikir lain, HP bukan lagi trend tapi kebutuhan!
           
Kemandirian menjadi sangat kunikmati. Itulah salah satu sebab kenapa selama tiga tahun aku belum pernah pulang ke Bali. Tapi, bukan berarti aku tak bisa jenuh. Aku sudah berjuang dengan banyak kesibukan. Aku merasa sudah cukup membuktikan bahwa aku bisa mandiri. Kupikir, sekarang sebaiknya kusediakan waktu yang cukup untuk memenuhi kebutuhanku yang lain, karena itu adalah bagian dari menghargai diri sendiri.

Kuputuskan untuk mengambil cuti studi pada semester ini. Untuk melayani kebutuhan hati, kerinduan yang tak bisa ditunda lagi untuk pulang ke kampung halaman. Bali!
         
Beberapa minggu lalu kutemukan sebuah buku kecil di saku dasar koperku. Buku itu berisi catatan nomor HP beberapa teman lamaku. Aku bersyukur, beberapa nomor ternyata masih aktif, dan sangat membantuku di saat menjelang kepulanganku ke Bali.
           
Untuk kesekian kalinya, aku menghubungi seorang teman lamaku di Bali. Kutunggui nada sambung yang mengalun. Hingga panggilanku diangkatnya.
           
“Halo?” sapaku.
           
“Hai!” jawabnya.
           
“Akhirnya aku jadi pulang ke Bali besok.”
           
“Besok?”
           
“Ya besok, 1 Oktober, tepat hari Sabtu!” jelasku bersemangat.
           
“Oh, jadi sesuai rencana? Bagaimana dengan tawaranku kemarin?” dia segera mengingatkanku lagi pada tawarannya kemarin.
           
“Ya, sudah kupikirkan. Apa tidak merepotkanmu?”
           
“Hahaha... Aku justru senang! Bandara dekat sekali dengan tempat kosku. Kau bisa menginap semalam di tempatku, kita bisa jalan-jalan ke Kuta atau Jimbaran. Dekat, santai saja!” bujuknya meyakinkan.
           
“Jujur saja, aku sangat tertarik. Aku cuma memastikan kalau itu tidak merepotkanmu.”
           
“Kalau repot, aku tak akan menawarimu,” sahutnya disertai tawa kecil. “Aku ada mobil, esok harinya kita bisa seperjalanan ke Jembrana. Kebetulan sekali kamu pulang di akhir pekan!”
           
“Baiklah kalau begitu, aku akan menghubungi keluargaku kalau aku akan menginap satu malam di tempatmu!” tandasku mantap. Tak ragu lagi dengan rencana ini.
           
“Sip!” sahutnya terdengar senang. “Bagaimana, kau tidak kangen dengan Awan?” tiba-tiba dia menyinggung seseorang.
           
Aku terkesiap. Termangu, kikuk.
           
“Dia pasti juga kangen kamu!” tambahnya sambil tertawa. Bergurau?
           
“Hahaha… Tahu dari mana?” tukasku menyelidik. Dia berhasil membuatku penasaran!
           
“Kalau bertemu dia nanti, suruh saja untuk jujur!” tantang temanku itu.
           
“Ah, kangen juga wajar. Sudah lama tak bertemu!” sahutku dengan senyum dongkol. “Lagipula, mana mungkin dia mau mengaku?”
           
“Ya, mungkin sama seperti kamu yang juga tak mau mengaku!” dia mulai memojokkanku.
           
“Hahaha... Kau bicara apa?! Sudahlah, tak usah didramatisir!” kelitku. Aku mulai tak nyaman membahasnya. Mulai… malu.
           
“Dika, Awan sahabat karibmu. Kau masih belum berniat menghubunginya? Aku akan memberimu nomornya yang baru...”
           
“Sudahlah, Van, tak perlu. Lagipula besok aku sudah pulang ke Bali, nanti pasti juga akan bertemu langsung dengannya!” aku tetap bersikukuh untuk tidak membahasnya. Aku tak mau membahas soal Awan dengan Devan. Tepatnya, aku tak mau membahasnya dengan siapapun.
           
“Baiklah, terserah kamu...” timpal Devan sambil tertawa. “Jam berapa kira-kira kau akan tiba di Bali?” dia akhirnya beralih hal.
           
“Entahlah. Jadwal berangkat pesawatku jam 8 pagi. Nanti aku hubungi kalau sudah tiba di bandara, aku menunggu sebentar tak masalah,” jelasku.
           
“Fine. Aku siap jemput.”
           
“Thanks, sampai ketemu besok!” timpalku puas.
           
“See you...!” sahut Devan.
           
Kami memungkasi pembicaraan di HP.
           
Sekarang kembali lagi pada suasana kamar kosku yang lengang. Kurebahkan tubuhku ke tempat tidur. Menghela nafas, membayangkan kepulanganku ke Bali besok.
           
Tiga tahun aku tak pulang. Aku sudah rindu dengan kampung halamanku. Rindu dengan keluarga. Rindu dengan alam Jembrana yang menyenangkan. Rindu dengan pantainya yang bersanding dengan sawah-sawah, ladang-ladang hijau. Jembrana yang tak seramai kabupaten lainnya di Bali, tapi justru di situlah indahnya Jembrana. Sebuah kampung halaman yang tenang dan damai.
           
Dan mengingat tentang Jembrana, ditambah kata-kata Devan tadi, aku kembali teringat pada Awan untuk kesekian kalinya. Sahabatku…
           
Dia kangen padaku?
           
Ahhh, itu pasti cuma kelakarnya Devan saja! Tapi, kenapa juga Devan bicara seperti itu soal Awan?
           
Saat mengenang sosoknya, lambat laun ada rasa ingin memeluk sesuatu. Memeluk seseorang. Memeluknya. Awan yang kalem, tak banyak bicara, tapi selalu membuatku nyaman untuk bergaul dengannya. Tiga tahun di SMA kami selalu berada di kelas yang sama. Tapi bagiku dia tak sekedar teman sekolah. Lebih…
           
Aku bergaul dengan banyak teman. Tapi tak ada yang sedekat dia dalam keseharianku. Aku bahkan masih ingat dengan suasana di rumahnya, di kamarnya, karena hampir tiap hari aku mengunjunginya. Sehabis pulang sekolah biasanya kami bercengkerama di depan kamarnya, sambil bernyanyi, bermain gitar, bercerita.
           
Di depan kamarnya ada pemandangan sawah yang terbentang luas, berlapis-lapis membangun harmoni di antara lembah dan bukit-bukit kecil yang hijau. Kami bisa melihat deretan meru yang menjulang anggun menghiasi sisi salah satu bukit di kejauhan. Dengan masih berseragam sekolah, kami sering terpulas berdua di kamar, di tempat tidurnya yang menghadap jendela. Lewat jendela itu, sambil tiduran kami bisa mengintip tenggelamnya mentari senja di balik bukit. Temaram, keemasan...
           
Tapi, akhirnya kebersamaan itu berakhir juga. Entah kenapa, dia mulai berubah padaku. Itu terasa saat menjelang akhir masa SMA kami. Dia menjadi dingin, tak banyak bercanda lagi, dan semakin sering menghindar dariku. Seperti sengaja menjauhiku. Tanpa memberiku alasan apapun. Aku kecewa. Aku juga mulai melakukan hal yang sama, menjauhinya, menghindarinya. Tapi tentu aku tak bisa membencinya. Tak mungkin!
           
Andai aku bisa melawan keinginan orang tuaku, mungkin saat itu aku sudah membatalkan untuk berangkat ke Jakarta. Bagaimanapun aku tak bisa mengecewakan harapan kedua orang tuaku yang sudah telanjur bangga saat anaknya diterima sebagai mahasiswa UI tanpa test. Itu menjadi saat yang terberat bagiku saat itu. Aku bermaksud berpamitan dengan Awan, sebagai tanda bahwa meski hubungan kami tak selalu baik dan akhirnya kami harus berpisah, kami tetaplah sahabat…
           
Tapi dia tak ada di rumah. Kami tak pernah bertemu lagi...
           
Saat aku sudah di atas kapal, aku ingat bagaimana hatiku merengek. Rasanya aku tak mau pergi sebelum dia muncul meski hanya sesaat. Tentu saja kekanak-kanakanku itu menghadapi kenyataan pahit. Orang yang kuinginkan, dia tak datang. Awan tak pernah muncul di pelabuhan itu. Hahaha... Tentu saja aku memang terlalu berharap!
           
Dengan kuliahku, dengan semua kesibukanku yang jauh dari rumah ini, kupikir aku akan melupakannya. Ya Tuhan, ternyata tidak. Dia tetap sering muncul dalam lamunanku. Bahkan di mimpiku! Hahaha… Aku sampai malu pada diriku sendiri.
           
Kepulanganku ini, membuatku berharap untuk bisa bertemu lagi dengannya setelah sekian lama. Aku ingin melihatnya, aku ingin tahu seperti apa sekarang wajah orang yang dulu pernah membuatku menangis karena dia telah membiarkanku pergi begitu saja. Apakah dia masih tampan? Masih memiliki wajah pendiam tapi senyumnya lebih kaya dari kata-kata?
           
Dulu, saat dia tak mencegahku pergi, dia membuatku merasa tak berarti. Tapi sekarang, semua itu justru menjadi memori yang tak terganti, tentang polosnya, tentang naifnya, dan tentang lucunya cerita persahabatan di masa remaja yang tak terlupakan itu. Bahwa aku pernah memiliki seorang sahabat sebaik dirinya...
           
Aku bertemu dan bergaul dengan banyak kawan baru. Tapi Awan membekas lebih kuat dari yang lainnya. Dan setelah sakit hati yang pernah kurasakan, aku tetap tak pernah mampu melupakannya. Rasa rindu terus tersisa. Aku tahu kenapa. Tak lain karena ini sebuah persahabatan dengan satu rahasia yang selalu tersimpan rapi dalam ruang hatiku yang paling tersembunyi...
           
Persahabatan yang diselinapi sepercik rasa cinta. Dan itu pernah begitu membara...!
           
Hahaha...
           
Pengakuan yang terlambat!




***


           
Mataku menyusuri wajah-wajah di ruang tunggu. Setelah dari tadi menunggu, akhirnya kutemukan wajahnya. Wajahnya yang agak tirus, meski ada yang sedikit berubah tapi aku tak lupa dengannya. Dia tersenyum lebar seirama langkahnya menghampiriku.
           
“Dika!” sapanya merekah.
           
“Devan!” sambutku.
           
Kami berjabat membuka pertemuan setelah sekian lama kami tak pernah jumpa!
           
“Bagaimana kabarmu? Sepertinya tak banyak berubah?” ujar Devan dengan keramahannya yang hangat.
           
“Kita cuma tak bertemu tiga tahun, bukan tigapuluh tahun!”
           
“Bagaimana penerbangannya? Nyaman?”
           
“Semuanya baik! Tak ada yang kupikirkan selama perjalanan, selain suasana Bali setelah tiga tahun aku tidak pulang!”
           
“Kau cuma pergi tiga tahun, bukan tigapuluh tahun!” Devan menyitir kata-kataku sebelumnya. “Tak ada yang kelihatan berubah, selain penampilanmu yang lebih… necis!”
           
Aku tertawa. “Menyindir? Bilang saja, dulu aku terlihat sangat udik!”
           
“Tidak udik. Cuma terlalu lugu.”
           
Kami tertawa riuh, berbincang hangat sambil melangkah ringan meninggalkan ruang tunggu. Dan begitu kami telah sampai di halaman luar Bandara Ngurah Rai, kuhirup udara sedalam-dalamnya dengan senyum terkembang. Udara Bali yang hangat! Aku benar-benar telah pulang!
           
“Mobilku di sana,” tunjuk Devan. “Kita ke kosku dulu, kamu bisa menaruh barang-barangmu dulu di sana. Selanjutnya bisa istirahat dulu, atau langsung jalan-jalan, terserah kamu.”
           
“Mungkin kita bisa cari makan dulu,” selorohku antusias. “Aku sudah tak sabar makan sekenyang-kenyangnya! Ayam Betutu, Plecing, Lawar...”
           
“Babi Guling?”
           
“Itu wajib!”
           
Kami berdua tertawa semakin renyai. Tak ada kata lain untuk kusimpulkan dari semua ini, selain bahwa ini adalah kepulangan yang menyenangkan. Dan aku yakin, masih banyak hal yang akan kutemui setelah ini. Di sini, di Bali. Hal-hal yang pasti telah kurindukan!




***


           
Kunikmati indahnya suasana senja di Jimbaran. Pantai yang memikat, teduh dan begitu pandai membangkitkan romantika. Aku bersama Devan, berjalan santai menyusuri pasir yang lembut sambil bercakap-cakap berbagi kesan.
           
“Hidupmu pasti menyenangkan tak jauh dari surga seperti ini!” lontarku sembari berdecak kagum.
           
“Kau pasti juga senang hidup di Depok, buktinya tiga tahun tak mau pulang. Apa Depok juga surga seperti ini?” Devan balas mencibirku.
           
Aku tertawa. “Sejak kapan Depok punya pantai?”
           
Devan balas tertawa. Tiba-tiba HP-nya berbunyi, tanda panggilan. Dia sedikit menjauh dariku, bercakap-cakap dengan seseorang di HP-nya. Aku sempat mendengarnya meski tak begitu jelas isi percakapannya.
           
Daripada menguping pembicaraan pribadi orang lain, aku lebih memilih memusatkan perhatianku pada suasana pantai yang meneduhkan hati ini. Banyak orang yang tampaknya sangat menikmati romansa bersama pasangannya. Memadu kasih. Lambat laun, membuatku merasa ingin seperti mereka. Andai saja, ada seseorang yang bisa kuajak berbagi, kudekap, bergandengan di sepanjang pantai, dan membiarkan kemesraan kami disaksikan alam Dewata yang megah ini. Terbayang begitu romantis!

Kuhela nafas, membuang hasrat yang mengada-ada. Di bibir pantai aku sendiri termangu, ditelan syahdu yang membiru. Hanya melamun dan membisu, menatap keindahan alam yang begitu sempurna, dan merasakan sebagian hatiku menyisakan hampa.
           
Akhirnya aku tersadar kalau Devan sudah meninggalkanku terlalu lama. Aku segera beranjak mencari kemana perginya temanku itu. Kucari kesana-kemari di tengah keramaian pantai. Cukup lama aku mencari, tapi belum juga menemukannya.
           
Baru saja aku terpikir untuk menghubungi HP-nya, ooohh... ternyata dia sudah lebih dulu menghubungi HP-ku!
           
“Van, kamu dimana?” tanyaku begitu mengangkat panggilannya.
           
Kudengar Devan tertawa. “Bingung ya? Aku sudah di dalam kafe. Kamu kemari saja, aku sudah pesan makanan!” jawabnya santai.
           
“Ahh! Bikin cemas saja! Kamu di kafe mana?”
           
“Kafe Nyoman. Dari tempat kita tadi ke arah utara, cari saja di sepanjang Jalan Four Seasons!”
           
“Baik, aku ke sana.”
           
Kututup percakapan.
           
Aku berjalan menyusuri Jalan Four Seasons yang ramai, melangkah santai sambil meneliti satu per satu kafe yang aku lewati, mencari nama Kafe Nyoman. Bersimpang-lewat dengan orang-orang di sepanjang jalan yang tengah menikmati surga malam di Jimbaran, sebagai orang Bali aku benar-benar tercengang melihatnya! Desa nelayan ini tak ubahnya sebuah ‘kampung bule’ yang riuh dan serba gemerlap. Sangat kontras dengan desa-desa pantai di Jembrana yang masih asli dan tenang. Jimbaran tetap memiliki eksotikanya seperti halnya Kuta dan Legian. Tapi eksotika itu seolah tak lebih dari sebuah gambaran wajah Bali yang mulai kehilangan jatidirinya.
           
Akhirnya, kutemukan juga yang kucari. Aku telah berada di depan halaman Kafe Nyoman. Selagi masih berada di halaman, aku beniat menelpon Devan lagi untuk menanyakan dia berada di kursi sebelah mana.
           
Tapi saat aku baru membuka layar HP-ku, mataku langsung teralih ke titik lain. Perhatianku tercuri oleh seseorang yang berdiri tak jauh dariku. Semula aku hanya berniat memperhatikannya sejenak. Tapi kemudian...
        
Aku terpana!
           
Seseorang yang berdiri tak jauh di depanku, di bawah pendaran lampu kafe, dia juga sedang memegang HP dan dia juga sedang memperhatikanku. Aku menatapnya lebih lekat, begitupun dia juga sedang memandangiku. Sampai akhirnya dengan yakin kukenali dirinya...
           
“Awan?!” cekatku setengah berseru!
           
“Dika?” dia pun tak kalah kagetnya!
           
Aku tak bisa menahan kakiku lagi, aku menghambur menghampirinya!
           
“Kok kamu di sini?” pertanyaanku tumpah bersama keheranan dan kekagetan.
           
Awan masih tampak tak percaya. “Kenapa kamu ada di sini?” ia gugup, membalas dengan pertanyaan yang sama.
           
Aku sendiri juga masih sulit percaya! Ya Tuhan, kenapa tiba-tiba aku bertemu dengannya seperti ini?!
           
“Aku kemari dengan Devan, dia ada di dalam kafe…” jelasku ikut gugup.
           
Awan terlihat tambah kaget. “Dia juga yang menyuruhku ke sini! Kamu...? Kapan kamu tiba di Bali...?”
           
“Aku... aku tiba sore tadi... Devan yang menawariku menginap di sini. Aku tak tahu kalau dia juga mengajakmu…” jelasku terbata-bata.
           
“Dia menelponku kemarin siang. Dia memaksaku datang kemari, katanya ini pesta ulang tahun pacarnya. Begitu tiba di Jimbaran aku menelpon dia lagi, katanya aku disuruh mencari kafe ini!” terang Awan. “Aku dikerjai?”
           
“Kita dikerjai!” sahutku lesu bercampur dongkol.
           
Kami terdiam berdiri di depan Kafe Nyoman. Aku masih terkejut dan tak percaya dengan pertemuan ini, Awan sepertinya juga begitu. Setelah lama berpisah, tak pernah mendengar kabar dan tiba-tiba bertemu lagi dengan cara seperti ini, kami benar-benar kikuk dan canggung menghadapi satu sama lain!
           
Kami saling berpandangan, dengan wajah yang tak pernah kami lihat sebelumnya. Heran, takjub, canggung, konyol... Malu! Yang akhirnya memaksa kami mulai tertawa. Dan lama-lama tawa kami makin lepas, menertawai diri kami masing-masing... Menertawakan kejutan ini, keajaiban yang telah direncanakan ini!
           
Semangat terasa merayap di balik kulitku. Berdesir begitu hangat seiring aku makin sadar, siapa yang berdiri di hadapanku. Sahabat yang sudah lama kurindukan...
           
“Bagaimana kabarmu?” Awan membuka sapanya.
           
Aku tertawa lirih. “Tiga tahun jauh dari rumah... Itu berat!”
           
“Berat? Lalu kenapa tak pulang saja?” Awan menyahut diiringi tawanya yang basah.
           
“Aku... Entahlah...! Mungkin karena aku selalu ingin semua kulakukan pada saat yang tepat.”
           
“Dan sekarang sudah tepat?”
           
“Ya.”
           
“Alasannya...?”
           
Aku kembali kikuk saat Awan menanyakan alasanku. Tanganku bergerak dengan sendirinya menggaruk-garuk kepala.
           
“Kamu masih garuk-garuk kepala kalau bingung?” Awan ternyata membaca bahasa tubuhku, bahasaku sejak dulu. Dia pun tertawa lagi.
           
“Sudah tak ada alasan lagi untuk tidak pulang. Rasa rindu sudah berada di puncak!” jawabku dengan senyum serba salah. “Rindu dengan semuanya. Keluarga, kampung halaman, rindu dengan...”
           
“Sebenarnya... meski aku tak pergi kemana-mana, tapi rasanya juga berat,” Awan memotong kalimatku yang belum selesai. “Kamu pasti ingat dengan kampung halaman kita yang menyenangkan. Dulu biasanya kita bermain bersama. Tapi sejak kamu pergi, semua rasanya berubah...”
           
Aku terpaku oleh ucapan Awan. Apakah maksudnya? Apa yang berubah…?
           
“Maaf aku tak bisa mengantarmu waktu itu...” Awan kembali memotong pikiranku. “Aku menyusul ke pelabuhan, tapi kapalmu sudah berangkat...”
           
Aku tertegun. “Kau menyusulku?”
           
Awan mengangguk pelan dengan senyum pahit. Senyum pahit yang sedikit tersipu.
           
“Sorry, aku memang teman yang payah. Aku juga kecewa dengan diriku sendiri. Tapi aku percaya kamu pasti baik-baik saja...” ujarnya pelan.
           
“Kamu tidak payah. Kalau kamu payah, aku pasti mudah melupakanmu.”
           
“Maksudmu...?” balas Awan, senyumnya berpadu dengan kernyitan di keningnya.
           
“Hahaha... Ya ampun, aku tadi bicara apa ya?!” deraiku kikuk. Sebelum bertambah malu, aku segera mengalihkan pembicaraanku. “Kamu naik apa kemari?”
           
“Motor. Aku parkir di depan sana,” jawab Awan.
           
“Ooo… Kamu masih tinggal di Jembrana?” tanyaku lagi.
           
“Masih.”
           
“Masih… suka menyanyi?”
           
“Masih.”
           
“Main gitar?”
           
“Masih.”
           
“Minum teh? Nasi Jinggo?” tanyaku makin beruntun, ingatanku tentangnya kian menyeruak!
           
“Hahaha...” Awan tertawa seraya mengalihkan wajahnya, seolah ingin menghindar untuk menjawabnya.
           
“Masih suka melamun di depan kamar?”
           
Awan sekarang menatapku lagi, tapi masih belum menjawab pertanyaanku. Dia cuma tersenyum dongkol sekaligus jenaka.
           
“Masih sendiri?”
           
“Semuanya masih!” jawabnya diikuti tawa yang basah. “Kamu juga masih sendiri?”
           
Aku mengangguk, mengakuinya.

“Aku juga suka melamun di depan kamar kosku dan berharap aku sedang berada di depan kamarmu...” ujarku pelan, bersama senyum lepas tak terhalang. Lalu kulanjutkan kalimat yang tadi sempat terpotong, “Aku rindu dengan masa-masa itu...”
           
Aku dan Awan saling berpandangan tanpa berkata-kata lagi. Membisu, meresapi wajahnya yang tak berubah. Teduh, bening, sayu... Senyumnya pun tak berubah. Lebih kaya dari kata-kata. Kuharap begitu juga senyumku. Bahwa persahabatan itu masih ada, tak pernah hancur meski pernah menyakitkan...
           
Tiba-tiba HP kami berbunyi, hampir bersamaan, memecah kebisuan kami. Kubuka SMS dari Devan.
           
“Kalau sdh kangen2an, cpt masuk! Ayo pesta!”
           
“Dasar si Devan!” sungut Awan diikuti tawa kesal setelah membaca SMS yang diterimanya.
           
Aku ikut tertawa. Aku yakin SMS yang kami terima sama.
           
“Ayo, masuk!” ajakku bersemangat dan hendak beranjak.
           
“Dika?” Awan mencegahku sesaat.
           
“Ya?” aku menoleh lagi padanya.
           
Awan tampak ragu sejenak. Tapi kemudian bibirnya terkembang. “Aku juga rindu masa-masa itu...” ucapnya di sela-sela senyuman.
           
Aku termangu sesaat. Berdiri berhadapan dengannya lebih dekat. Aku tahu, keraguan telah menahan kalimatku yang paling jujur. Dan aku sadar, tak ada lagi waktu yang lebih tepat selain sekarang!
           
“Sebenarnya aku tadi juga mau bilang, kalau aku juga kangen kamu...” ucapku setengah terbata.
           
Senyum Awan terkatup teduh. Seolah ada bahagia yang tak terhitung di dalamnya...
           
“Aku juga. Rindu sama kamu!” balasnya lirih.
           
Sesaat kami terdiam. Lalu tak terbendung lagi, aku tergerak memeluknya.



Dan seketika itu, malam tiba-tiba menggelegar!

Gelombang suara menusuk keras ke telinga dan letupan udara melemparkan tubuh kami. Kusaksikan semua terhempas dan berjatuhan. Aku mendengar jerit yang menyusul kengerian, berlomba dengan suara tangis yang mengumbar pilu. Aku melihat mereka rebah. Darah berceceran. Malam terasa pecah!
           
Dalam sisa sadarku, aku mencari Awan...
           
Aku melihatnya tergolek tak berdaya. Aku memanggilnya tapi tak ada suaraku yang keluar. Aku merangkak untuk menggapainya. Tapi aku tak sanggup... Aku melihatnya meregang! Ya Tuhan, aku melihatnya kesakitan...! Aku mencoba merangkak lagi dan berteriak...!
           
Tapi… perlahan-lahan, pandanganku semakin kabur... Sepenuhnya aku pun roboh.


Dan kurasakan diriku... akhirnya lepas.







---




berlanjut ke halaman ini: Hidup Adalah Anugerah
0 komentar

Posted in

II


DI BAWAH LANGIT BALI






Seorang Penghibur


          
Lamat-lamat kudengar seseorang memanggil namaku. Kupicingkan mataku. Sejenak aku menggeliat, perlahan membangunkan diri.
           
“Devan, masih tidur saja?” sapanya lagi.
           
Kuperhatikan orang yang menyapaku itu. Laki-laki bertubuh tinggi sedang dengan wajah kalem, dia tersenyum tipis di muka pintu kamar kosku.
           
“Awan!” balasku.
           
Awan, sahabatku yang baru datang itu tertawa kecil sambil melangkah masuk.
         
“Aku ketiduran,” gumamku sambil menggeliat di kursi. “Naik apa kemari?”
           
“Itu, motor!” Awan menunjuk motornya yang diparkir di halaman. Dia berdiri di hadapanku sambil menatapku dengan jenaka. “Kamu agak kurusan? Hmmm. Terlalu sibuk jadi aktivis?”
           
“Yahh… Kampanye lingkungan, melawan sampah-sampah para pemilik modal yang mengotori pantai kita. Sangat melelahkan. Duduk sini!” selorohku sambil menyilakan sahabatku itu duduk.
           
Lalu aku beranjak menuju dapur. Sejenak kemudian, aku segera menuju ke ruang depan lagi sambil membawa satu poci teh hangat.
           
“Soal minum, kesukaan kita masih sama kan?” selorohku sembari meletakkan poci di atas meja.
           
Awan cuma tersenyum tipis. Dia menyambut poci teh itu, lalu menuangkan isinya ke gelas. Dia meminum tehnya. Matanya yang bening sayu, yang tadi terlihat lelah kini mulai berangsur-angsur lebih cerah.
           
“Bagaimana kabarmu?” aku bertanya sambil ikut meminum tehku.
           
“Biasa saja. Kamu?”
           
“Ya, beginilah. Kau lihat sendiri. Dan sebagian aku juga sudah ceritakan padamu!”
           
Awan menatapku, tertawa simpul. Tampaknya paham yang kumaksud. “Mulai saat ini seharusnya hidupmu lebih menyenangkan. Suatu saat aku juga ingin bertemu dengannya, pacarmu  itu!” balasnya santai.
           
Aku tertawa kecil. Memang, beberapa hari yang lalu aku bercerita sedikit pada Awan melalui telpon, bahwa aku sekarang menjalin hubungan dengan seseorang. Berpacaran. Sebenarnya juga tak terlalu penting untuk dibahas panjang, aku cuma sekedar memberi tahu sahabatku itu bahwa setelah sekian lama akhirnya aku memiliki kekasih. Sepertinya dia mau mencibirku, padahal dia sendiri belum pernah berpacaran dengan siapapun hingga kini!

“Menurut teman-temanku, dia tak terlalu cantik. Tapi manis. Entahlah, apa bedanya?” gumamku santai.
           
“Yesus bilang, ‘Jangan memandang rupa!’, begitu kan?” tiba-tiba Awan menyebut Yesus.
           
Aku tertawa. “Kau tahu dari mana Yesus bilang seperti itu?”
           
“Kau pernah mengajakku ke gereja. Seingatku seperti itu kothbahnya,” jawab Awan santai.
           
“Seingatku, aku tak mengajak. Kau sendiri yang minta ikut. Malah kupikir kau ketiduran di gereja waktu itu!”
           
“Di Pura yang hening saja aku tidak ketiduran, bagaimana bisa di gereja yang hingar bingar itu aku malah ketiduran?”
           
Aku cuma tertawa menanggapinya.
           
“Tapi benar, Yesus pernah bilang begitu kan?”
           
“Entahlah. Kau kira aku umat yang baik?” sahutku sambil terkekeh melirik Alkitab milikku yang teronggok di bawah meja. Berdebu.
           
“Kenapa? Kau jadi lebih liberal sekarang?” sindir Awan disusul dengan tawanya. “Kapan aku bisa berkenalan dengan pacarmu itu?” lanjutnya dengan pertanyaan yang kembali ke soal pacar. Meski lebih terdengar bergurau daripada bertanya serius.
           
“Kapan-kapan saja,” jawabku santai. “Ada yang lebih penting dari itu, kapan giliranmu memberi kabar gembira bahwa akhirnya kau juga punya pacar?!”
           
Awan tertawa kecut, tak menjawab. Dia meminum tehnya lagi. Pandangannya menatap ke dinding, tapi sepertinya pikirannya ada di tempat yang lebih jauh. Mengawang.
           
“Dari Jembrana kemari, jauh sekali. Saat kamu memberitahu mau kemari, aku kira ada hal penting. Atau cuma sekedar mengunjungiku?” aku mengalihkan pembicaraan.
           
Awan masih terdiam sesaat. Matanya tampak bergerak agak ragu. “Ya. Tapi mungkin bisa kita bicarakan nanti sore saja, sambil jalan-jalan. Aku ingin ke Jimbaran. Tapi saat ini aku masih agak lelah,” ungkapnya sambil menggeliatkan tangannya.
           
Oo, sepertinya memang tak sekedar mengunjungiku.
           
“Okey, kau bisa tiduran dulu kalau masih letih,” sahutku ringan.
           
“Hmm...” Awan cuma mengangguk pelan.
           
Dari Jembrana ke Badung adalah jarak yang cukup jauh. Lebih dari 100 km. Apalagi ditempuh dengan motor, pasti melelahkan. Aku tidak bisa mencegah kalau Awan ingin beristirahat sejenak setelah perjalanan jauhnya.
           
Aku mulai tinggal di sini, di Badung, sejak tiga tahun yang lalu, tepatnya tahun 2001. Aku mengambil kuliah di Fakultas Hukum Universitas Udayana dan karenanya aku harus meninggalkan Jembrana. Awan adalah adik kelasku waktu SMA, kami selisih satu tahun. Begitu lulus dia tetap di Jembrana, meneruskan kuliah di Akademi Pariwisata Kota Negara. Biarpun berbeda angkatan, kami bersahabat karib. Tapi sekarang, jarak yang jauh membuat kami jadi jarang bertemu. Paling cepat aku pulang ke Jembrana sebulan sekali. Sedangkan Awan sendiri jarang mengunjungiku kemari. Cuma telpon dan SMS yang menjadi sarana komunikasi kami untuk menjaga kontak.
           
Dengan kunjungan yang dia rencanakan ini, sepertinya ada hal penting yang ingin dia bicarakan. Tapi entah apa, tampaknya dia butuh beristirahat dahulu sebelum menjelaskannya. Aku memakluminya.

Kubiarkan sahabatku itu beristirahat di tempat tidurku. Aku memandanginya dan tersenyum.

Sobat, beban apa yang kau bawa kemari?




***


           
Pantai Jimbaran menjelang senja. Mentari memendarkan warna jingga di lembaran langit. Samudera luas berdebur, seperti cermin agung yang memantulkan wajah sang angkasa. Bayang-bayang remang berkerumun di sepanjang garis pantai, bercengkerama, bercanda di antara pasir dan ombak. Perahu-perahu nelayan mengapung di kejauhan, bergoyang seirama dengan gelombang.

Kami berdua duduk menghadap pantai. Terpekur takjub.
           
“Bagaimana Jimbaran? Mengesankan?” lontarku.
           
“Mungkin tak akan bosan,” jawab Awan dengan senyum kalem.
           
Pramusaji menghantarkan pesanan kami. Menu udang bakar dan dua buah kelapa muda. Aromanya langsung menggodai nafsu makan!
           
“Setelah pulang dari sini, semoga aku tak pernah lagi membeli menu semahal ini. Ini sangat menguras dompet!” kelakar Awan saat menghadapi makanan di meja kami.
           
“Ya, tetap saja mahal meski kita patungan!” timpalku.
           
Kami makan sambil menikmati suasana senja di Pantai Jimbaran. Ya, rasa dari menu yang kami makan sebenarnya tidak terlalu istimewa. Rasa lezat yang tak lebih istimewa dari menu yang sama dengan harga yang lebih murah. Tapi suasana di pantai ini memang masuk akal untuk diberi tarif mahal. Mungkin sebenarnya suasana inilah yang membuat kami kenyang!
           
“Van, aku ingin membicarakan sesuatu...” akhirnya Awan mulai membuka percakapan yang mengarah pada maksud pertemuan kami.
           
“Soal apa?” pancingku santai, siap menyimak sambil menikmati makan malam kami.
           
Awan terdiam sejenak. Aku menunggu tanpa ingin membuatnya tergesa-gesa.
           
“Kita bersahabat sejak SMA,” gumam Awan.
           
Aku mengernyitkan kening mendengar kalimatnya yang masih mengambang itu.
           
“Kau adalah teman yang selalu bisa kuajak bicara. Itupun kita sudah jarang bertemu,” lanjut Awan. Senyum pahitnya mengembang. “Sebenarnya aku takut kalau setelah ini… kau akan menjauhiku...”
           
Aku tertegun. “Maksudmu?”
           
“Memang kita sudah berjauhan sekarang. Tapi maksudku, aku kuatir kau akan berubah... jadi membenciku...”
           
“Hei...! Ada apa?!” cekatku makin bingung. Kata-kata Awan mulai membuatku cemas!
           
Awan seperti berat untuk berterus terang. Ia tertawa tersendat. “Kau sekarang sudah punya kekasih. Jadi aku pikir, mulai sekarang kita tak akan seperti dulu lagi. Aku takut kalau...”
           
“Kenapa aku harus membencimu?” tanyaku, tak mau berbelit-belit.
           
Awan membisu. Menyendokkan makanannya, menyelesaikan kunyahan yang terlihat tak dinikmatinya. Ia berjuang melawan kegugupan, tapi kenapa?
           
“Kita bersahabat sudah lama. Kau adalah teman karibku, aku tahu kau juga menganggapku begitu. Tapi selama ini aku menyembunyikan sesuatu darimu…”
           
“Menyembunyikan sesuatu? Kau sahabatku, tapi aku tak keberatan jika ada yang perlu kau tutupi. Selama itu memang pantas untuk tak kuketahui. Setiap orang punya sesuatu yang pribadi.”
           
“Tapi, aku rasa kau pantas untuk tahu, Van.”
           
Aku tercenung. “Baiklah. Aku mendengarkan. Apa yang selama ini kau sembunyikan?”
           
Awan mendesah. “Apa menurutmu akan mudah, untuk tidak menyembunyikan keadaan... bahwa selama ini aku mencintai seorang laki-laki...?”
           
Ucapan lirih itu membuat jantungku terkesiap. Tak kuduga. Aku terpana. Beberapa saat lamanya kupandangi sahabatku itu tanpa bisa berucap.
           
Awan tersenyum pahit padaku. “Kamu tidak salah dengan kok, Van. Your friend is gay...”
           
Tak hanya tak mampu berucap, sekarang aku juga berhenti mengunyah makanan yang masih terjejal di dalam mulutku.
           
“Kamu serius?” akhirnya dengan setengah mendengus aku tertawa. Masih sulit percaya.
           
“Aku memendamnya, sudah sejak dulu. Sekarang sudah terlalu sesak untuk kutahan!” desah Awan lirih. “Aku ingin kau mengetahuinya, Van. Karena sekarang kau sudah punya kekasih, hari-harimu mungkin sudah diisi oleh seseorang yang lebih berarti. Aku cuma sedikit berharap, aku tak akan dilupakan oleh sahabatku...”
           
Aku dibuat bungkam lagi. Dadaku mulai nyeri. Tergetar…

Awan tertawa lirih. “Kau sudah seperti kakakku sendiri, Van. Aku sering rindu kalau kau jarang pulang ke Jembrana. Siapa lagi teman karib yang kupunya? Siapa lagi yang bisa kuajak bercerita banyak hal? Aku takut kau tak bisa menerimaku lagi, tapi aku tetap harus mengatakan ini. Karena menyembunyikan perasaan ini terus menerus membuatku seperti seorang diri di dunia, tak ada orang yang benar-benar mengerti diriku yang sebenarnya. Aku ingin kau mengerti…”
           
Aku tertunduk. Merenungi dalam-dalam pengakuan sahabatku. Ini terasa menghantamku!
           
“Aku pernah kehilangan seseorang akibat ketidakjujuranku, Van. Sekarang, seandainya kau tak bisa menerimaku, setidaknya aku sudah jujur padamu...”
           
Aku menatap Awan. Melihat senyum kesepiannya.
           
“Masih ingat, kothbah Yesus yang kau singgung tadi siang?” aku mulai bicara, mengutarakan pendapatku. “Jangan memandang rupa! Sebenarnya itu bukan ucapan Yesus, tapi kesaksian Samuel, seorang nabi di Perjanjian Lama. Sebenarnya tak penting juga siapa yang mengucapkannya. Intinya, jangan menilai seseorang dari luarnya, melainkan dari hatinya. Aku sudah sering mendengar tentang gay. Kehidupan yang kotor, rusak, cabul, penuh dosa...”
           
Gurat wajah Awan tertekan, tak sanggup lagi menatapku. Tertunduk lesu seolah ada sesuatu yang begitu berat menindih kepalanya.
           
“Tapi kenapa aku harus peduli omongan orang lain, sedangkan aku sendiri sangat mengenalmu?” tandasku melanjutkan kalimatku. “Bahkan pembuat cerita Sodom dan Gomora sama sekali tak mengenalmu. Tapi aku mengenalmu! Aku kenal hatimu, dan kau tak seburuk itu. Kenapa kau mengira aku akan membencimu hanya karena kau memiliki sebuah pilihan hidup?”
           
Perlahan Awan mengangkat wajahnya lagi. Tersenyum getir padaku. “Orang-orang berkata ini pilihan yang salah...!” desahnya.
           
“Bagaimana dengan pendapatmu sendiri tentang pilihanmu?”
           
“Ini... setidaknya membuatku merasa lebih baik...”
           
“Aku mengenalmu, kau sudah menjadi orang baik sejak dulu. Dan sekarang setelah membuat pilihan itu, kau merasa lebih baik. Jadi alasan apakah bagiku untuk membencimu?”
           
Awan tertawa, menatapku dengan gundah. “Kau yakin? Siapa yang tahu isi hati orang, Van?”
           
“Siapa yang tahu isi hati orang?” aku mengulang pertanyaannya. Aku menjawabnya tanpa ragu. “Yang tahu adalah orang yang menjadi sahabatnya.”
           
“Bukankah seandainya aku tak mengatakannya, kau tak akan tahu masalah yang kusembunyikan? Lagipula, aku tak bermaksud bahwa kau harus mencibir Kitab Suci-mu hanya demi membelaku. Itu malah jadi semakin membebaniku…” sergah Awan. Tawanya terdengar rapuh.
           
Aku tersenyum kecut, menghadapi sahabat yang bimbang tapi sekaligus sedikit keras kepala!
           
“Baiklah, mungkin memang tak semuanya aku bisa tahu. Tapi bahwa kamu pribadi yang baik, aku tahu itu. Bagiku, pengakuanmu tak merubah kenyataan itu. Dan soal Kitab Suci, sudahlah! Apa kau tidak lihat, buku itu sudah berdebu di bawah mejaku?”
           
Awan terkekeh sedikit kikuk. “Setidaknya hatimu jangan ikut berdebu. Tuhan pasti lebih bijak dari yang kita tahu, kau tak perlu bersikap terlalu angkuh. Meskipun… aku tetap lega, kau bisa menerima keadaanku...” urainya terbata-bata.
           
Tawaku ikut berderai lirih.

“Ya, Tuhan pasti sangat bijak. Karenanya, kau tak perlu rendah diri seolah Tuhan senang melecehkan umat-Nya!” ujarku, seraya mendekap dan menepuk telapak tangan Awan yang tertekuk lesu di atas meja. “Kau tetap sahabatku. Aku tetap menerimamu. Kapanpun!”
           
Awan tertunduk.
           
“Meski aku sudah punya pacar. Dan dia perempuan,” tambahku.
           
Awan menahan tawanya, meski sebenarnya lebih indah jika ia melepasnya. Ada haru yang menyelinap dari getar lirihnya. Tawa damai di bibir sahabatku...
           
“Aku bersyukur...” ucapnya lirih.
           
“Kenapa baru sekarang kau mengatakannya?” tanyaku. Dalam hati sebenarnya aku merasa malu, karena sebagai sahabat aku tak mampu memahami semua ini sejak awal.
           
“Perlu waktu untuk memahaminya, Van...” desah Awan pelan. “Bahkan aku perlu waktu untuk jujur terhadap diri sendiri, bahwa selama ini aku telah mencintai seseorang...”
           
Aku menatapnya lekat-lekat. “Siapa dia?” tiba-tiba aku sangat ingin tahu.
           
Mata Awan kembali menerawang jauh.
           
“Seseorang yang sudah pergi. Jangankan mengakui perasaanku padanya, mengantarnya ke pelabuhan saja aku terlambat...” ucapnya dengan senyum pahit.
           
Aku sekejap mengingat. Aku terpana menerkanya. “Dika?”
           
Awan hanya tersenyum sembari menatap langit. Pada senyum itu, seperti kulihat jejak-jejak pahit yang tak lagi disangkalnya. Ia menjawab ‘Ya’ dengan senyum itu. Aku pun tak berhenti heran pada diriku, bagaimana bisa aku tak mengerti itu sejak dulu?
           
“Saat dia mengatakan rencananya untuk kuliah di Jakarta, sebenarnya aku marah dengan keadaan,” tutur Awan menguraikan ceritanya. “Aku tak mau dia pergi, tapi aku juga terlalu penakut untuk bicara jujur. Dengan pengecut aku malah memilih menjauhinya, berharap bisa melupakannya dan tak perlu menanggung sakit hati lagi. Hahaha... Aku memang bodoh. Kalaupun aku tak mampu bicara jujur, paling tidak seharusnya aku tetap berada di sampingnya, dan ada di sana saat harus merelakannya pergi. Itulah yang seharusnya dilakukan seorang sahabat. Tapi itu tak kulakukan. Sekarang aku hanya bisa menyesalinya.”
           
Aku terharu mendengar keluh kesahnya.
           
“Kesalahan di masa lalu adalah untuk diperbaiki. Kalaupun tak bisa diperbaiki lagi, setidaknya itu pelajaran agar kita bisa membangun hal baru yang lebih baik,” ucapku menegarkan semangatnya. “Penyesalan bukan lubang untuk kita terbenam. Tapi lubang untuk kita daki.”
           
Awan mengangguk dengan senyum yang terkatup haru. Aku percaya, dia mampu menghadapinya.
           
“Aku tahu keakrabanmu dengan Dika. Terus terang aku tak terlalu dekat dengannya. Tapi sejak dulu aku sudah menilai, bahwa kalian memang seperti dua orang yang sudah dijodohkan sebagai sahabat. Apakah kamu tidak ingin memperbaikinya?”
           
“Entahlah. Aku tak tahu, Van. Bagaimanapun dia sudah tidak di sini. Sudah dua tahun sejak dia pergi, tak kembali lagi kemari. Entah kapan dia akan pulang...” curah Awan lesu. “Aku sudah mencoba, tapi aku tak pernah menemukan orang yang bisa menggantikannya...”
           
Terbayang juga olehku, andai aku berada di posisi Awan, aku rasa aku pun belum tentu sanggup untuk berterus terang. Mencintai seorang sahabat, sesama laki-laki, apakah itu bisa menjadi hal yang mudah?
           
“Lalu... bagaimana dengan keluargamu? Apa kau akan mengatakannya juga?” tanyaku hati-hati.
           
“Kurasa, aku tak mungkin menyembunyikan hal ini selamanya, Van. Tapi bagiku akan ada waktu yang lebih tepat untuk memberitahu mereka. Mungkin setelah aku menyelesaikan sekolahku, saat aku sudah mampu bekerja, hidup mandiri, setidaknya menunjukkan baktiku dan bisa membuat mereka bangga. Saat itu mungkin akan lebih mudah bagi kami,” ucap Awan tegar.
           
Aku mengangguk. Ada rasa kagum sekaligus haru. Awan, seorang sahabat yang selama ini dihantui perasaan yang tak pernah dia ungkapkan. Seorang sahabat yang kesepian, bimbang, goyah... Tapi akhirnya tetap setia dengan kata hatinya. Aku telah mengenalnya sejak lama. Dan sekarang aku mengenalnya sekali lagi!
           
“Selama itu bisa membuatmu lebih baik, aku akan tetap mendukungmu. Kau tak kehilangan sahabatmu ini!” tandasku.
           
“Kau bukan hanya sahabatku, Van. Lebih dari itu!” tandas Awan padaku. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”
           
Aku berdecak dengan senyum haru. “Kitab Amsal 17, ayat 17.”
           
Dan aku tak akan pernah melupakan wajah Awan malam itu, yang begitu lepas dan damai saat dia berucap...

            
“Terima kasih...” 








---


berlanjut ke halaman ini: Seseorang Yang Kembali
0 komentar

Posted in

I


DI BAWAH LANGIT BALI




Seseorang Yang Tertinggal…



Pulang kuliah. Kumasuki gerbang rumahku. Melewati balai kecil di depan rumah di mana ibuku tengah membuat takir sesaji seperti biasa. Sekilas ibuku melihatku, cuma dengan senyum tipis sebagai sambutan untuk hal yang sudah keseharian. Ya, sudah keseharianku, sibuk kuliah dan selalu pulang menjelang sore.

Kuletakkan diriku, bersandar di teras depan kamarku. Melepas penat sambil memandang ke barat. Jauh ke seberang teras. Pandanganku mengembara ke pesawahan yang hijau kekuningan di sana, yang berbatas dengan tepian bukit dan hutan yang teduh.

Kuhela nafasku. Kupejamkan mata, mendengarkan sayup-sayup suara yang rancak di kejauhan. Jegog, musik bambu kebanggaan tanah Jembrana sedang menyapa telingaku. Iramanya tegas, tapi mengalir dengan lembut di antara udara sore yang hangat. Aku terbuai. Hingga kemudian irama bambu itu berhenti, digantikan suara lain yang mencuat seperti seruling. Itu suara Sunari, peluit bambu yang dipasang para petani di sawah mereka. Lubangnya diselami oleh angin, menghasilkan suara yang terdengar pilu di antara sahutan burung-burung sawah yang riang.

Inilah suara sore di depan kamarku. Di tanah Jembrana yang aku cintai…

Aku tak bosan. Karena membayangkan lembar-lembar hidupku di Jembrana, tak hanya mengarungi nuansa keindahannya yang sahaja. Tapi juga menyusuri kembali kenangan-kenangan berharga dari masa remaja yang sudah lalu. Mengingat kembali betapa indah masa SMA dulu, saat aku bersama dengan seseorang yang sangat membekaskan banyak harapan dalam diriku hingga saat ini.

Sosok yang tak pernah lekang. Dia, suatu ketika masuk dalam hidupku. Itu bermula di awal masa SMA. Di sebuah camping dalam rangka masa orientasi sekolah, saat-saat yang dipenuhi dengan bentakan para senior, gojlokan mental, dan juga hukuman-hukuman. Aku sangat mengingatnya, tak mungkin lupa.

Di malam terakhir kegiatan perkemahan itu, aku merasa tak sehat, dan memilih untuk beristirahat di dalam tenda di saat siswa-siswa lainnya harus mengikuti acara api unggun. Saat itulah, dia menghampiriku…

“Kamu sakit?” dia bertanya.

Saat itu aku belum mengenalnya, dan hanya tahu bahwa dia sekelas denganku dan satu tenda denganku. Aku cuma mengangguk pelan saat menjawab sapaannya.

Tanpa kuduga, tiba-tiba dia menjamahkan tangannya ke leherku.

“Ahhh!” desahku kaget, tangannya terasa dingin di kulitku.

“Sepertinya kamu demam. Sudah minum obat?” tanyanya, dengan sangat santai memberiku perhatian.

“Sudah,” jawabku singkat, seraya merapatkan sweater dan mendekap tubuhku yang kedinginan.

Tiba-tiba ada yang menyibak kain pintu tenda. Seorang siswa senior. “Kenapa tak ikut kegiatan?!” bentak senior kami itu, membuat kami terkesiap.

Aku belum sempat menjawab, temanku tadi sudah menjawab lebih dulu.

“Dia sakit, Kak,” jawab temanku.

“Kalau sakit kenapa tidak ke UKS? Kenapa malah di sini?!” senior itu membalas dengan bentakan lagi.

Di saat kami berdua tengah gugup menghadapi bentakan senior, ada senior lainnya yang menyusul menghampiri kami.

“Ada apa?” tanya senior yang baru datang itu, lebih halus.

“Temanku sakit,” lagi-lagi temanku yang menjawab. Aku belum sempat menjawab apa-apa. Membuatku benar-benar heran.

“Kalau sakit ke UKS saja. Ayo!” ajak senior kami yang baru datang itu. “Kamu sekalian temani dia,” imbuhnya pada temanku tadi.

Senior kami yang ketus kembali ke kerumunan api unggun. Sedangkan kami, bersama senior yang ‘baik hati’ tadi mulai beranjak dari tenda. Melintasi lapangan sekolah yang remang oleh pendaran api unggun, kami bertiga melangkah dengan panduan lampu senter yang dipegang senior kami, menuju ke ruang UKS.

Udara terasa lebih hangat di dalam ruang UKS itu, dan juga lebih terang. Aku merasa lebih nyaman. Aku tak lagi tiduran di atas rumput basah berlapis tikar, tapi di atas kasur yang empuk dan hangat.

“Kak, yang sakit temanku ini. Apa aku harus ikut di sini?” tanya temanku kepada senior yang mengantar kami.

“Kamu temani dia saja di sini. Soalnya semua panitia sedang sibuk, tidak ada yang bisa menjaga. Aku ambilkan teh hangat sebentar,” jelas senior kami itu dengan senyum ringan. Di luar dugaanku, setelah merasakan tiga hari camping dengan senior-senior yang judes, ternyata di malam terakhir camping itu akhirnya kami bertemu juga dengan senior yang ‘baik’ seperti dia.

“Wah, matur suksma, Kak. Kak Devan memang paling baik hati!” sahut temanku. Rupanya temanku sudah tahu nama senior kami itu.

Devan, senior kami itu menimpali. “Sebenarnya aku kuatir ruang UKS ini berhantu. Makanya sebaiknya kalian saling menemani di sini!” bisiknya sambil menepuk bahu temanku.

“Berhantu?” temanku mendesis agak bergidik. “Serius?”

Saat itu aku pun ikut merinding. Sedangkan senior kami yang bernama Devan itu menggeloyor keluar dengan santainya sambil tertawa kecil. Sesaat kami berdua kikuk di ruang kecil yang sepi itu. Tapi kemudian kami berdua segera ikut tertawa. Tawa masam, berharap semua itu cuma gurauan seorang kakak kelas!

Aku memandangi temanku itu, orang satu-satunya di ruangan selain aku. Keramahan dan kepeduliannya itu, dengan mudah segera membekas dalam benak dan batinku. Di SMA yang baru kami masuki itu, dialah orang yang pertama kali menempatkan diri sebagai seorang teman yang sesungguhnya bagiku. Ramah, hangat dan sangat perhatian.

Bahkan mungkin itulah awal kali aku mulai mengenal sebuah persahabatan.

“Terima kasih ya, Dika…” ucapku.

“Hmmm… Sudah tahu namaku, ya?” canda Dika sambil mengayunkan dagunya ke atas.

Aku tersenyum. “Itu namamu terpasang di seragam,” tudingku ke bagian dada seragam Pramuka-nya. “Kamu sudah kenal Kak Devan?” tanyaku kemudian, sekedar berbasa-basi.

“Belum. Jadi kamu tidak membaca nama di seragamnya?” balas Dika sambil nyengir.

Kami tertawa. Sindiran yang sangat kena! Sejak pertama aku memang lebih memperhatikan Dika. Tidak hanya namanya, tapi juga dalam hati berulangkali memuji rasa perhatiannya dan keramahannya itu.

Dan juga…

Ketampanannya.

“Terus, namamu?” Dika ganti menanyaiku, sambil menyelidik ke seragamku.

Kurapatkan sweater-ku yang terbuka menutupi dada, hingga tak mungkin Dika membaca tanda namaku. Aku tertawa geli melihat tingkahnya.

“Namaku Awan!” sebutku begitu melihat wajahnya tampak menyerah.

“Okey, nama yang bagus, aku maklum kalau kau ingin menyebutnya sendiri!” cibir Dika.

Kami tertawa. Kehangatan mengalir lewat canda cerita sepanjang malam itu. Dan itu adalah sebuah awal. Awal kedekatanku dengan seorang sahabat yang memberikan sangat banyak arti dalam hidupku.

Persahabatan kami berjalan sepanjang masa SMA yang menyenangkan. Masa remaja kami terbingkai dengan indah dan kenangan tentangnya mengakar kuat dalam lubuk ingatanku. Bila aku memejamkan mata dan menghayati bisikan udara di langit Jembrana, dengan mudah aku akan menuju ke sana lagi, kepada kenangan-kenangan itu.

Jembrana tempat lahir kami, tempat tumbuh kami, bagian dari persahabatan kami…

Terlintas lagi wajah-wajah kami saat berboncengan sepeda melintasi tepian hutan di kaki bukit. Lalu menembus jalan kecil di pesawahan, menghalau burung-burung pipit yang mengganggu padi. Dan akhirnya bertemu dengan pantai yang senyap dan ramah… Kami berjalan menapakkan jejak kaki kami di atas pasir pantai, ya… pantai di Jembrana yang bersandingan dengan sawah dan bukit-bukit. Lalu menyaksikan terbenamnya sang surya yang semburat di ufuk barat.

Bila festival Jegog tiba, kami pasti menonton dan ikut bersenang-senang. Minum arak Bali untuk menghangatkan badan bila udara Jembrana sedang dingin. Terjaga dan main gitar sampai pagi, menyambut sang mentari yang tersenyum menyapa bumi, baru kemudian terpulas dalam lelap dan damai.

Suatu ketika di Pura Perancak yang ada di tepi samudera, selepas bersembahyang kami duduk berdua, bercengkrama. Dari teras Pura kami memandang indahnya alam Jembrana. Di arah barat Sungai Perancak mengalir dengan airnya yang tenang, sementara di tepinya barisan pohon kelapa melambaikan nyiur yang ditiup angin sore yang sejuk. Rumah-rumah pedesaan dengan gaya tradisionalnya tampak berkerumun di muara. Dan tak jauh darinya, samudera biru membentang agung.

Saat itu kami berdua terpekur dalam sebuah percakapan yang begitu hangat. Dika melontarkan ketakjubannya…

“Tuhan memang Seniman Agung. Siapa lagi yang bisa membuat pemandangan seindah ini? Semuanya menyatu, serasi dan sempurna…” ujarnya.

“Menurutmu, apakah semua yang tampak serasi itu sudah pasti berjodoh?” sahutku.

“Tentu.”

“Kalau begitu, lihatlah di sana, dan bayangkan sekali lagi. Kebun dan sawah para petani di tepi pantai. Bumi dan laut tampak indah dan serasi. Tapi mereka tak berjodoh.”

Dika menatapku. “Apa maksudmu?”

“Bukankah Dewi Bumi, Hyang Pertiwi, bukanlah sakti dari Dewa Laut, Hyang Baruna? Bayangkan, andai mereka menjadi suami-istri, air laut menyatu dengan tanah di bumi, maka tanah akan menjadi asam dan padi-padi yang hijau itu tak akan pernah tumbuh.”

Dika tertawa merekah begitu mendengar penjelasanku.

Aku pun melanjutkan cerita yang kudengar dari para petani itu. “Keindahan yang bisa kita lihat itu, sawah dan ladang hijau di tepi laut yang biru itu, dapat menjadi seperti itu karena dua dunia itu tak sepenuhnya menyatu. Meski keduanya tampak serasi, tapi sebenarnya mereka tak berjodoh. Keindahan yang kita lihat, adalah tanda bahwa kita melihat apa yang tampak saja.”

“Aku rasa, kamulah yang menyempitkan arti dari jodoh,” Dika kemudian membalas ceritaku. “Hyang Pertiwi dan Hyang Baruna tak berjodoh sebagai suami-istri, tapi mereka berjodoh sebagai mitra yang ditugaskan Hyang Widi untuk menghidupi umat manusia dengan kekayaan bumi dan laut. Justru kalau mereka tidak berjodoh sebagai dua mitra yang bersahabat, dan tidak saling menjaga dharma masing-masing, bukankah hidup umat manusia malah akan menjadi kacau?”

Jawaban Dika segera membuatku merenung. Dan dia segera tertawa renyai seraya mendekap punggungku. Berdua melanjutkan canda cerita, memaknai masa muda dengan keakraban yang tak akan pernah undur dari ingatan.

Ahhh, bila kuingat saat-saat indah itu, aku merasa haru…

Kemana hari-hari itu?

Masih sendiri di sini, aku pun kian terpejam. Ingatan itu seperti menghisapku untuk menjelajah makin dalam. Menilik lagi ke masa itu, saat-saat di mana kami harus berpisah.


***


Satu tahun yang lalu…

Di sebuah ruang tunggu, aku berulang kali melihat waktu di jam tanganku. Sampai akhirnya Devan menangkap gelagatku yang sedang gelisah.

“Masih lama. Sekitar dua jam lagi baru dimulai paradenya,” cetus Devan sambil ikut melihat jam tangannya.
“Bukan soal acaranya!” tukasku.

“Terus?”

“Dika berangkat ke Jakarta hari ini.”

“Oo… Kemarin kamu juga sudah cerita padaku,” sahut Devan sambil menatapku datar.

Aku merenung lesu. Aku tak tahu kenapa hatiku menjadi bimbang. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk acara ini sejak jauh-jauh hari. Tapi sekarang perasaanku jadi kacau!

“Dika berangkat jam lima sore ini, ke pelabuhan,” gumamku gelisah.

Aku menatap Devan, dan dia juga sedang memandangiku dengan mimik bingung.

“Dia sudah pamitan kan?” lontar Devan.

“Dia memang sudah pamitan. Tapi waktu itu aku tak ada di rumah. Dia cuma menitipkan pesan ke ibuku,” jelasku setengah linglung. Sekarang hatiku makin ragu dengan keberadaanku di acara ini.

Devan mengamatiku sejenak. Lalu dia tersenyum masam. “Mungkin aku salah, tapi aku merasa… sepertinya kau memang sudah mulai menjauh darinya?” singgungnya datar.

Aku terdiam. Terus terang, aku tak berharap mendengar pernyataan Devan barusan. Aku tak mau beban pergumulanku ini bertambah!

“Kamu mau mengantar Dika?” tebak Devan kemudian, seolah bisa membaca pergumulan yang kusiratkan.

Aku memalingkan muka. Jawabanku memang ‘Ya’, tapi entah kenapa aku merasa canggung dan sungkan mengungkapkannya. Kuharap Devan juga cukup menebaknya saja.

“Terus bagaimana dengan acara ini? Kalau kamu mau bicara dengannya bisa menelponnya kan?” ujar Devan lagi. Sepertinya dia memang bisa menebak jawabanku.

“Dia tak punya HP. Aku tadi menelpon rumahnya, tapi tak ada yang mengangkat!” jelasku. Akhirnya aku terlalu gelisah untuk memendamnya.

Dengan kalut aku berpikir-pikir. Hingga akhirnya…

“Aku mau menyusul dia!” cetusku, memutuskan sebuah pilihan dan mencabut keragu-raguanku. Aku segera berdiri dan bergegas secepat mungkin menuju ruang ganti!

“Hei! Mau kemana?!” Devan berseru kaget padaku.

Devan mengikutiku. Aku tetap meneruskan langkahku tanpa mempedulikannya, secepat mungkin menuju ruang ganti yang ada di ujung koridor.

Di ruang ganti aku menatap wajahku di cermin. Ya ampun… Segera kulepasi Udeng, kain Wastra dan semua embel-embel kostumku. Lalu segera menuju wastafel dan mencuci mukaku, membersihkan make up.
“Sial!” dalam hati aku memaki. Kenapa tadi aku harus dirias di luar? Aku tak punya pakaian ganti di sini! Aku benar-benar kesal dengan kondisiku sekarang!

“Kamu kenapa, Awan?!” Devan menanyaiku dengan wajah agak kesal.

“Aku mau menyusul Dika!”

“Kamu mau menyusul kemana?”

“Dia bilang akan menyeberang dari Gilimanuk. Sekarang dia pasti sudah berangkat ke sana,” jelasku agak bingung, berusaha mengatur emosi. Aku memandangi Devan lekat-lekat.

Devan membalas pandanganku dengan mimik seperti tak enak dengan gelagatku. Ragu-ragu dia tersenyum. “Kamu mau ke Gilimanuk?” kuliknya dengan muka masam.

“Tolong antar aku!” pintaku padanya.

“Ya ampun!” Devan langsung mendesah lunglai mendengar permintaanku. “Jadi benar kamu mau ke Gilimanuk sekarang? Terus acara ini bagaimana? Perjalanan ke Gilimanuk tak cukup satu jam!”

Aku tahu. Aku berpikir lagi.

Dan…

“Aku akan mengundurkan diri,” sebuah keputusan kuambil lagi di tengah kebimbanganku.

Devan menggelengkan kepalanya disertai senyum kesal. “Bukannya ikut acara ini adalah keinginanmu?” lontarnya sinis.

“Aku tahu! Tapi… Kau juga tahu, Dika itu sahabatku! Dan aku tak akan bertemu dia lagi!” tandasku gundah. Semakin kusadari situasiku, semakin rumit rasanya.

“Kalau kau mengundurkan diri, bagaimana dengan pasangan parademu? Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan masalah ini?” cecar Devan.

“Soal pasanganku, panitia pasti akan mengaturnya nanti. Mereka selalu menyiapkan Plan B, dan itu bisa dipakai sekarang!” jawabku gugup. Kedengarannya memang egois. Entahlah, sepertinya aku sudah tak bisa berpikir lebih jauh lagi.

“Panitia pasti akan tanya alasanmu! Bagaimana juga dengan orangtuamu? Mereka juga ingin melihatmu di acara ini kan?” Devan tak berhenti mencecar keputusanku.

Aku membanting punggungku ke dinding. Lututku kelu, aku terhenyak di lantai. Kuremas kepalaku. Rasanya ingin kubanting semua perkara yang membebani kepalaku ini!

“Aku tak butuh lagi acara ini!” seruku, tak dapat lagi menahan kegundahanku.

Devan terpana kecut memandangiku. Sesaat kami membisu. Dalam hati aku merasa buntu, dan aku marah dengan keadaanku!

Akhirnya Devan ikut menekuk lututnya, menjajarkan kepalanya di depan wajahku.

“Awan… Hei?” bisik Devan pelan dan lebih tenang. “Kamu yakin dengan keputusanmu?”

“Antar aku, cuma kamu yang bisa kuandalkan. Please!” aku memohon dengan putus asa.

Devan mendesah. Dia merengkuh bahuku, mengajakku berdiri lagi. Dia menepuk pundakku, berusaha menenangkan emosiku.

“It’s OK,” ucapnya pelan. “Tapi bajumu?”

“Aku tak punya pakaian ganti di sini. Antar saja aku sekarang!” desakku sekaligus pasrah.

Aku tahu, dalam hatinya Devan pasti sangat kesal padaku. Tapi setelah kupikirkan, memang inilah tindakan terbaik yang seharusnya kulakukan. Festival Jegeg Dan Bagus Jembrana ini memang penting dan aku mengikutinya dengan penuh harapan, pada awalnya. Tapi kemudian aku sadar, bahwa persahabatanku dengan Dika lebih penting. Dan di hari keberangkatannya ke Jakarta ini, untuk melanjutkan sekolah dan aku tak akan bertemu dengannya lagi entah sampai kapan, aku ingin melepasnya… meski mungkin hanya dengan satu kalimat perpisahan yang kuucap untuknya. Itulah sikap seorang sahabat!

Dan cuma Devan yang bisa kuandalkan untuk membantuku. Setelah ‘memaksa’ panitia acara untuk menerima pengunduran diriku dengan alasan yang memang terdengar sangat egois bagi mereka, dengan keras kepala aku meninggalkan acara itu. Dengan motornya Devan segera membawaku meluncur ke Gilimanuk, aku sendiri tak peduli dengan jas dan celana kostum festival yang masih melekat di tubuhku. Festival Jegeg Dan Bagus Jembrana, aku benar-benar tak memikirkannya lagi!

Melalui perjalanan sekitar satu jam dari Negara, dengan motor yang melaju kencang, akhirnya kami tiba di Gilimanuk. Aku terkesiap saat melihat waktu di jam tanganku, jam enam lewat!

“Semoga belum terlambat!” gumamku dalam hati penuh harap.

Devan memberiku isyarat supaya jalan lebih dulu, dia mencari tempat parkir untuk sepeda motornya. Aku segera bergegas.

Tapi… aku tertegun dan mataku tersita oleh pemandangan yang tanpa sengaja kudapati di tempat parkir. “Kenapa ayah dan ibu Dika sudah keluar dari pelabuhan?” aku bertanya-tanya dengan cemas dalam hati.

Setengah berlari aku segera menghampiri orang tua Dika yang baru mau masuk ke mobil.

“Maaf, Pak!” cegahku di depan mobil. Ayah Dika yang sudah duduk di kursi setir tercengang melihatku, seperti berusaha mengingatku. Aku terengah-engah bercampur cemas. “Dika? Apa Dika sudah…?”

“Ooo… Dika sudah berangkat, kapalnya baru saja menyeberang,” dengan wajah masih heran ayah Dika menjawabku.

Aku terpana. Tubuhku lemas. Langkahku gontai. Orang tua Dika masih tercengang di dalam mobil, tapi aku sudah tak sempat mempedulikan mereka lagi. Kutinggalkan mereka, aku segera mengejar ke dalam pelabuhan! Aku berlari menuju dermaga. Dalam hati aku meracau sepanjang derap lariku, berharap aku belum terlambat.

Bisa saja orang tua Dika bohong! Ya, mereka pasti bohong! Dika pasti belum berangkat! Aku harus mengejarnya!

Tapi…

Kulihat kapal itu sudah berada di tengah laut. Kapal telah berangkat, berlabuh menyeberangi selat…

Lututku lunglai. Aku terhenyak di lantai dermaga. Aku terdiam nanar menatap kapal yang semakin menjauh. Hatiku sekali lagi masih berusaha berontak. Aku masih mencoba menengok ke sekelilingku dengan penuh harap, berharap bisa saja Dika naik kapal berikutnya. Dia mungkin masih menunggu di dermaga ini! Dia belum berangkat! Dia masih…

Dia masih…

Ya Tuhan…

Aku tertunduk menatap lantai dermaga yang dingin dan bisu. Semangatku pupus. Kapal itu sudah berangkat. Dika sudah pergi.

Aku memang terlambat.

Tetes-tetes rinyai gerimis kurasakan memercik ke wajahku. Kurasakan, juga ada yang menetes dari mataku.


Ya Tuhan, aku menangis…


***


Aku terbangun dari lamunan, siuman dari kenangan perpisahan itu. Menyadari lagi sepenuhnya keberadaanku di sini, di teras depan kamarku. Sore telah menghujung kepada senja. Angin mulai dingin, semilir menghembus wajahku. Kuusap pinggiran mataku yang basah.

Langit sore yang keemasan ini, rasanya sama seperti saat kami bercengkerama di Pura Perancak. Saat kami berbagi cerita tentang bagaimana alam saling bersahabat. Bahkan, alam saja menjaga dharmanya. Bagaimana aku berani menyatakan bahwa aku menginginkannya lebih dari seorang sahabat? Bahwa kepada seorang sahabat rupanya aku telah memendam rahasia bernama: Cinta.

Bahwa, takdir mampu membuat perasaan dalam hati manusia menjadi begitu rumit...

Aku sering berharap tak pernah memiliki perasaan sedalam ini. Aku sudah berusaha, untuk menepis dan menjauh. Mencari kesibukan lain dan segudang alasan untuk melupakannya. Aku takut jika perasaanku ini hanyalah sebuah keinginan hati yang terlalu tamak, seolah persahabatan yang indah itu belum cukup.
          
Tapi sekarang, aku merasa justru selama ini hatiku terlalu miskin untuk memberi tempat pada ketegaran. Aku tak mau kehilangan dia, aku tahu itu dari dulu! Tapi selama ini aku sungguh pandai membohongi diri. Aku selalu menghindar hingga akhirnya dia benar-benar pergi, dan aku tak pernah sempat mengantarnya meski hanya untuk melepasnya di dermaga dengan satu ucapan perpisahan.
           
Rupanya menjadi sahabatpun aku tak mampu. Bagaimana aku layak berharap lebih? Kalaupun aku tak pernah berani jujur di hadapannya, kenapa aku juga harus memilih untuk berusaha menjauhinya? Akhirnya, sebagai pengecut aku menyesal. Dan penyesalan ini seperti kutukan yang justru membuat perasaan itu kian dalam. Mungkin ini memang setimpal.
         
Persahabatan kami, seperti pemandangan sawah dan pantai yang berpadu indah di alam Jembrana. Berpadu, tapi tak pernah sepenuhnya menyatu. Persahabatan mesra, dengan hasrat terdalam yang tetap terpisah. Tak bisa memilikinya. Tak bisa mengungkapkannya. Hanya bisa merindukannya, ketika kejujuran telah terlambat...
           
Letih… Kulipat rapi kenangan itu. Aku tahu, setiap saat bayangnya akan menyapa lagi. Selalu. Bersama udara Jembrana yang berbisik dan mendenyutkan namanya ke bagian hatiku yang paling dalam.
           

“Hahaha... Hatiku yang bodoh, kau memang harus belajar menerimanya!”







---



Berlanjut ke halaman ini: Seorang Penghibur
0 komentar

Posted in